Aku tak menyangka kalau berada di balik kemudi mobil itu sungguh menyenangkan seperti merasa di dunia yang sudah lama aku kenal. Pertama kali aku belajar mengemudikan mobil saat masuk ke kelas 3 SD. Saat itu aku hanya bisa memajukan dan memundurkan mobil, belajar mengganti gigi manual. Mobil yang aku pakai saat itu adalah Panther yang memiliki body gede, tempat dudukku pun disangga oleh bantal agar bisa melihat ke depan.
Tak berhenti begitu saja, saat kelas 5 SD aku memaksa seorang sopir ibuku untuk menemaniku menyetir mobil keliling kota Sidoarjo. Tak disangka saking senangnya, aku mengemudikannya hingga ke Surabaya. Sopirku ketakutan jika aku kena polisi, tapi aku tetap memaksa hingga kami berdua bertengkar, dia mengancamku memberitahu ibuku kalau aku menyetir hingga ke Surabaya. Karena aku dasarnya keras kepala, tak peduli ancamannya, dia hanya bisa diam dan menangis, aduh kejamnya aku, maaf ya mas, maklum anak kecil..:))
Saat SMP, aku pindah ke Malang, sedangkan orang tuaku tetap tinggal di Sidoarjo karena tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Di Malang aku tinggal sendiri dengan pembantu dan sopir, karena merasa tak ada orangtua, dengan bebasnya aku memakai mobil tanpa ijin orang-orang di rumah dan tanpa SIM pula. Tak kusangka, satpam di perumahanku memberitahu ibuku jika aku suka pergi dengan mobil sendirian. Ibuku memarahiku dan memberi wewenang sepenuhnya kepada pak sopir untuk mengatur segalanya yang berhubungan dengan mobil. Pak sopir kini berani memarahiku jika aku diam-diam mengambil kunci mobil. Huh, menyebalkan sekali orang itu. Jika aku minta antar ke tempat les, sedangkan sopir lagi tidur, dia marah-marah karena aku membangunkannya, dia mengantarkanku dengan berat hati dan ngebut sepanjang jalan hingga menabrak sepeda motor, hahahaha entah mengapa hatiku senang sekali melihat kejadian itu…:p
Semakin lama pak sopir bersikap seenaknya kepadaku, aku sering tak dijemput pulang sekolah atau tak diantar les, dia malah tidur di rumah, akhirnya aku naik angkot dan suatu saat baru sadar setengah perjalanan jika uangku ketinggalan di rumah, dengan muka tembok dan tampang tanpa rasa bersalah aku meminjam uang kepada kakak kelas yang baik hati untuk membayar angkot. Aku tak tau namanya bahkan aku tak mengenalinya, hanya mengenali dari badge sekolah saja kalau dia kakak kelas, sampai saat ini aku belum membayar hutangku Rp. 350. Semoga dia mengikhlaskan uang angkot itu untukku dan mendapat rejeki 10x lipat. Amin.
Menginjak ke kelas 3 SMP, beberapa teman mengajakku untuk gabung di klub balap mobil Kota Malang. Aku mengiyakan ajakannya karena penasaran seperti apa teknik-teknik yang baik untuk menyetir. Beberapa hari gabung, kakak-kakak senior sudah sangat baik padaku, mereka mengajariku teknik mengoper gigi tanpa bersuara dan tanpa menyendat laju mobil. Mereka juga mengajariku parkir dengan baik, dan teknik-teknik mengemudi lainnya supaya menjadi pengemudi yang anggun dan nyaman untuk semua orang. Perkataan yang tak pernah aku lupa dari mereka adalah “Di saat kamu mengemudikan segala kendaraan, kamu memperlihatkan kepribadianmu yang sesungguhnya kepada penumpang, karena cara menyetir seseorang melambangkan kepribadian orang tersebut”. Aku sadar bahwa perkataan kakak senior adalah benar dan sudah banyak kubuktikan saat aku mengamati hubungan antara cara mengemudi seseorang dengan kepribadiannya (wah, ini bisa dijadikan judul skripsi, hehehehe).
Di usia yang masih remaja itu, kakak-kakak senior mengikutkanku pada ajang lomba balap mobil yang diselenggarakan oleh IMI, aku masuk pada jenis sprint rally untuk kelas remaja dan pelajar di daerah Tumpang-Malang. Meski masih pemula, beruntung aku mendapatkan posisi ke-3 dari 30an peserta lainnya. Menyusul perlombaan lain, aku mencoba ikut di jenis slalom, tapi sayang skill-ku kalah jauh dari tim lain. Tapi tak apa, aku sudah senang bisa memeriahkan acara tersebut dan pernah merasakan sensasi yang luar biasa dari balap mobil.
Naik ke kelas 1 SMA, aku shock karena tidak lolos ke SMA Negeri favorit, memang sih aku kerjanya main terus jarang belajar, aku memutuskan mundur dari klub dan konsen ke sekolah. Berat hati memang, tapi inilah jalan yang harus aku pilih, fokus ke sekolah dan menjadi anak rumahan demi masa depan yang lebih baik. Kuputuskan pula untuk naik motor ke sekolah agar tak tergoda lagi dengan dunia balap mobil.
Saat berada di balik kemudi mobil, perasaanku begitu menyatu dengan apa yang aku bawa, hatiku terasa damai, lelah berkendara jauh tak pernah aku hiraukan, sejauh Malang-Jogja pun aku lakukan dengan hati gembira. Aku tak mengerti akan perasaan ini. Bahkan menurutku, memarkirkan sepeda motor jauh lebih susah dibanding memarkirkan mobil secara paralel. Aku pernah menjatuhkan banyak sepeda motor ke arah samping secara bertubi-tubi di kampus, untung bapak-bapak penjaganya baik mau menolongku. Hehehehe…:p
Meski sudah lama aku mengendarai mobil, banyak juga kekuranganku, aku tak bisa mengendarai mobil matic, tak begitu paham dengan mesin-mesin, dan sampai sekarang aku tak berani untuk menyeberang jalan raya! Ooohhh…sangat tak lucu sekali..:(
Hingga kini, aku sebal sekali bila ada orang yang meremehkan seorang perempuan yang sedang mengendarai kendaraan di jalan. Rata-rata bila ada mobil berjalan lambat dan tak tau arah, saat pengendara lain melihat pengemudinya dan ternyata pengemudinya seorang perempuan, orang lain pasti bergumam "oooh, pantas saja yang nyetir cewek, lambat gini". Eits, tunggu dulu, biasanya pengemudi perempuan itu lebih berhati-hati loh di bandingkan pria, dan jangan salah bila saat ini kami sebagai kaum perempuan perlahan-lahan seiring berjalannya waktu dapat membuktikan bahwa kami bisa melakukan pekerjaan pria dengan lebih baik, jadi jangan sekali-kali ya meremehkan kami...:)