Saya sempet bete mendengar sebuah komen dari salah satu orang yang paling saya hormati di dunia ini, yaitu nenek saya. beliau berkata ketus kepada saya “kamu itu yang nyebabin ibumu sakit (stroke) kaya gini soalnya kamu gk nikah-nikah, ibumu jadi mikir kamu sebagai bebannya!”. Langsung saja hatiku menyebut “Astaghfirullah, beri hambamu kesabaran Ya Allah”. Ini dia yang bikin saya nangis semalaman, tega nian beliau menusuk hati saya dengan perkataan seperti itu…
Oke ini giliran saya bercerita mengapa saya belum menikah..
saya sudah memasuki usia 26 tahun. Saya sudah lebih dari 9 tahun pacaran dengan kekasih saya. Pacar sudah punya pekerjaan dan baru saja berhasil menyelesaikan S2-nya di Jepang, kami punya tabungan untuk menikah, dan saya juga sedang menyelesaikan S2 di Jogja. Pasti komentar orang melihat keadaan ini “menyedihkan, sudah mampu nikah tapi masih menunda-nunda”. Kami menunda pasti ada alasannya kan? Bayangkan saja 9 tahun pacaran tapi menunda pernikahan? adalah orang bodoh yang mampu tapi tidak segera menikah. kecuali jika memiliki alasan yang kuat mengapa tidak segera melaksanakannya.
Tahun 2003 pertama dia nembak saya adalah hal terindah, soalnya saya dulu sih yang suka dia trus saya deketin dia, eh ternyata PDKT saya sukses sampai dia nembak segala. Ternyata salah satu ortu saya tidak menyukai pacar saya. dia diusir dari rumah dan ortu berkata “tidak usah menghubungi Aay lagi!”, mirip sinetron deh. Kami putus, tapi balikan lagi karena masih sama-sama cinta dan menjalani backstreet. Dia dengan sabar menjalani pacaran gaya ini. Malah pernah nih dia main ke rumah, pas ibu saya datang, saya suruh dia nutupin mukanya pake bantal biar gk ketahuan. Si dianya sabar aja dan nurutin. Meski putus nyambung berkali-kali, kami tetep aja balikan lagi. Sampai temen dia ngasih motto “kemanapun kiki pergi pasti baliknya ke aay juga”, busyet dah.
Dengan sabarnya dia menunjukkan ke ortu saya kalau dia layak diperhitungkan sebagai calon menantu. Bayangin aja kami backstreet selama 7 tahun sampai akhirnya ortu saya bener-bener mencintai pacar saya juga. Yah, memang sih kalau cerita pacaran backstreet 7 tahun sih biasa, tapi selama itu kami LDR (Long Distance Relationship ato Pacaran Jarak Jauh). Bayangin aja udah LDR, backstreet pula.
Cobaan gak sampai situ aja, waktu pacar mau berangkat S2 di Jepang, kami berniat menikah. kami sudah merencanakan hari dan tanggalnya, kami sudah mulai cari-cari model cincin di internet, dan berdiskusi bagaimana nanti kehidupan kami di Jepang (rencana saya dibawa juga ke Jepang). Hari-hariku terasa bahagia menyongsong hari pernikahan. ternyata salah satu dari orangtua si pacar tidak setuju karena pacar masih terlalu muda (saat itu baru berusia 23 tahun).
Duarrr…!!
Akhirnya rencana pernikahan batal. Si pacar sudah berusaha untuk meyakinkan ortunya semaksimal mungkin, tetapi beliau tetap masih tidak menyetujui rencana kami. Yah, tau lah kalo saya pasti menangis sejadi-jadinya. Saya rasanya iri melihat teman-teman yang bisa menikah dengan mudah mendapatkan restu dari orangtua. Saya sempat stress saat itu. Saya sering mendengarkan ceramah-ceramah agama agar hati saya kembali normal. Ada beberapa teman malah menyuruh saya mencari pria lain yang bisa dinikahi..
Ohh stop!!
Saya menikah bukan karena hanya INGIN MENIKAH! saya menikah tentu dengan pria yang saya cintai, berapa lama pun menunggunya saya rela asal hatinya selalu untuk saya. saya berjanji untuk menunggunya lulus S2 dan menunggu bertambah usia. Pada saat itu nanti kami berdua akan meyakinkan ortunya untuk melangkah ke pernikahan. bisa saja sih kami menikah tanpa kehadiran ortu pihak lelaki, tapi kami berdua berkomitmen bahwa pernikahan haruslah direstui dari semua pihak. Karena menurut kami, pernikahan itu indah dan ikatan antar 2 keluarga, bukan hanya 2 orang saja. Kami tidak boleh egois dan Alhamdulillah alasan ortunya tidak boleh menikah karena usia, bukan karena saya pribadi.
Mungkin ini giliran menguji kesabaran untuk saya. pacar sudah diuji selama 7 tahun, saya harus bisa menunggunya 2 tahun untuk bisa meyakinkan ortunya bahwa kami sudah layak menikah. saya harus kuat dan tegar menghadapi semua cemooh dan ujian dari berbagai pihak yang memojokkan. Kebenaran akan selalu menang dan kesabaran pasti akan berbuah hasil yang baik. saya hanya meyakinkan pada diri sendiri bahwa suatu saat nanti pasti momen indah itu akan hadir dalam hidup saya.
Dan…
Pacar saya selalu mengajari saya untuk selalu tegar menghadapi sebuah masalah, tidak mendayu-dayu, dan tidak dihadapi dengan sebuah tangisan melulu tapi harus dihadapi dengan penyelesaian yang baik pula. So, pliss jangan nyinetron jika menghadapi sebuah masalah! Ini kehidupan nyata dan pasti endingnya lebih indah dari cerita drama manapun. Siapa tau kan??