Selama 25 tahun saya gk pernah tau gimana rasanya hidup ngekos. Pernah sih sewaktu saya kerja di Blitar, hanya sebentar saja, itu pun terpaksa menempati kos-kosan yang campur cowok cewek karena hanya tempat itu saja yang nyaman sedangkan tempat-tempat lainnya bangunan tua yang menyeramkan.
Sekarang saya hidup “sementara” di Jogjakarta karena meneruskan kuliah ke jenjang Magister. Awal saya mau ke Jogja, pikiran saya dipenuhi hal-hal yang tidak menyenangkan. Bagaimana nanti saya disana? Bagaimana teman-temannya? Bagaimana angkotnya? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang belum saya jalani. Ahhh, sudahlah saya jalani saja dulu, repot juga kalau mikir yang tidak-tidak.
Saya sempat kehabisan kos-kosan karena sudah dipenuhi maba-maba S1 yang sudah mendahului saya di bulan Agustus, sedang saya masuk bulan September. Akhirnya saya mendapatkan kos setelah 2 hari putar-putar sekitar UGM. Saya agak rewel masalah kos. Bagi saya, kos yang baik adalah kos yang jendelanya mendapatkan angin segar dan sinar matahari, kamar mandi yang bersih, serta kamar yang gk terlalu sempit.
Kos yang saya tempati adalah kos yang harganya lumayan mahal untuk seukuran kamar saya. Rumah kos ini pun termasuk bangunan tua yang banyak beredar gossip bahwa banyak hantunya, bahkan banyak yang di hantui sama pocongan. Jika diibaratkan sebuah tingkatan antara 1 sampai dengan 10, saya berada di level ke 7,5 tingkat keberanian terhadap hal-hal berbau mistis. Rumah saya di Malang pun penuh misteri yang banyak hantu “nongkrong” di berbagai sudut rumah, tetapi saya tidak takut selama saya percaya dengan Tuhan.
Dasar saya yang gak pernah ngekos, sekali ngekos rasanya aneh karena saya dituntut untuk berbagi dengan yang lainnya. contohnya adalah berbagi kamar mandi dengan orang yang tak saya kenal. Saya tidak suka dengan kamar mandi yang kotor. Inilah yang saya risih dari kehidupan ngekos, yaitu ada beberapa cewek yang jorok. Entah saya tak tau siapa orangnya, yang jelas, mereka dengan seenaknya buang pembalut di sampah berceceran, setiap habis keramas tidak dibersihkan sehingga banyak rambut-rambut rontok menyumbat aliran air, bahkan ada yang buang air besar lupa disiram, kadang ada juga kototran-kotoran lain di kamar mandi yang tidak wajar seperti kulit kacang. Ihhh, beneran saya geli dengan dengan kejadian-kejadian yang tak pernah saya temui di rumah sendiri. Karena merasa jijik, saya setiap kali membersihkan lubang aliran air yang dipenuhi rambut-rambut itu, saya bersihkan wc yang terdapat bekas noda kotoran manusia yang menempel. Rupanya ada gunanya ngekos, saya setiap hari olahraga kamar mandi! Yaiks, ternyata cewek-cewek juga bisa jorok ya. Huff.
Yang menyebalkan lagi, saya ada jadwal kuliah pagi, saya isi bak mandi dengan air yang sebelumnya memang kosong. Sementara air mengisi bak, saya melanjutkan mengerjakan tugas. Tak disangka tiba-tiba ada yang nyelonong masuk kamar mandi untuk mandi dan sekeluarnya dia dari kamar mandi, air habis! Arrrgggg, kuliah pagiiiii!!! Saya nyari kamar mandi lain yang airnya masih ada. Ternyata masih ada 1 kamar mandi yang masih ada sisa air sedikit sekali untuk mandi. Tak apa lah yang penting bisa mandi. Dengan hati lega saya melakukan ritual-ritual mandi. Air kran-nya saya nyalain tuh biar airnya ngisi ke bak mandi. Sewaktu saya memakai sabun, tiba-tiba air kran mati. Waduh, airnya mati! Terpaksa saya menggunakan sisa air yang cukup untuk beberapa guyuran saja. Sewaktu saya keluar kamar mandi, eeeee ternyata ada yang membuat air kran saya tak nyala karena aliran air mengarah ke kran lain yang dipakai orang untuk cuci baju. Dan orang itu adalah cewek yang buat air kamar mandi yang saya isi tadi habis! Grrrrrrrrrrr, menyebalkan sekali nih orang. Mana kalo dikasih senyum tak membalas. Ahhh, kesabaran saya sedang diuji. Sabar ay sabar…
Ah, biarlah kesulitan apa yang akan saya hadapi nantinya. Saya harus berjuang melawan perasaan-perasaan tidak menyenangkan ini. Saya harus menyadari bahwa setiap individu itu unik, dengan kejorokan-kejorokannya pun tampak unik. Bahkan saya berusaha memahami cewek menyebalkan yang merebut air dari saya. Yah, itulah gunanya saya kuliah di ilmu psikologi yang bertujuan untuk memahami sifat dari manusia. Terima kasih Tuhan telah memberikan semua kenikmatan ini pada saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar