Saat itu tertanggal 4 Mei 2009.
Hari itu ku sedang mengikuti program KKN oleh kampus, tepat 1 hari aku tiba di tempat KKN. Pak sopir langganan ayah menjemputku di desa tempat aku KKN.
“Mbak, bapak masuk RS. Segera pulang”
Karena aku baru 1 hari di tempat KKN, dengan sungkannya aku pamitan pulang pada teman-teman. Mau gak mau mereka pasti mengijinkan aku pulang.
Pagi itu aku dan pak sopir langsung meluncur menuju RST. Soepraoen. Disana aku menuju ruang ICU. Aku melihat tubuh ayah yang lemah tak berdaya, tak sadarkan diri, beliau sedang koma. Selang infus tertancap beberapa bagian tubuh beliau. Alat bantu pernafasan bergetar mengikuti irama nafas ayah yang sudah setengah-setengah. 2 tahun sudah ayah terserang penyakit stroke dan selama itu aku menemani ayah kemanapun beliau berobat, meskipun kadang dengan setengah hati mengantarkan beliau karena mengantuk.
“mbak, sana masuk ruang ICU temui bapak”, kata ibu padaku.
Segera aku menuju ruang ICU dan memegang tangan ayah yang sudah sangat dingin. Alat detak jantung sudah sedikit terputus-putus. Denyut jantungnya sangat lemah.
Aku menangis….
“Bapak, mengapa bapak seperti ini. Bapak bisa mendengar aku? Aku sayang bapak.”
Aku memijit-mijit jari ayah, yang biasanya aku lakukan sehari-hari pada ayah. Kata terapis stroke, itu berfungsi untuk melancarkan oksigen ke otak. Aku merasakan jari-jari ayah bergerak.
Aku melihat ibu datang menuju aku. Aku segera mengusap air mataku. Memang aku paling tidak suka ada seseorang tahu bahawa aku sedang manangis.
“mbak, sudah ngucapin maaf ke bapak?”, Tanya ibu padaku
“sudah, bu” jawabku.
Aku memang sudah meminta maaf pada ayah, tapi tak pernah terucap di bibirku, hanya di hati. Pikirku, nanti malam aku akan mengucapkan permintaan maafku di telinga ayah, aku malu mengucapkan di depan banyak orang.
Ibu menyuruhku pulang ke rumah untuk istirahat. Aku berjanji pada ibu bahwa malam harinya akan kembali lagi menjenguk ayah sekalian membawakan baju ganti untuk ayah. Aku pulang mengendarai motor sendiri menuju ke rumah.
Di rumah aku bertemu dengan kakak perempuanku, Mbak Ririn. Aku berbincang-bincang sebentar dengan Mbak Ririn, kemudian mengambil air wudlu untuk sholat, dan kemudian istirahat hingga sore.
Sekitar pukul 17.00 aku mandi dan makan bersama Mbak Ririn di rumah. Kami berencana datang ke RS untuk menjenguk ayah setelah solat Maghrib. Selesai solat maghrib, aku siap-siap berangkat menuju RS dengan Mbak Ririn beserta keponakanku tercinta. Saat buka garasi mobil, ibu menelpon ponselku.
“hallo”, sapaku.
“mbak, gk usah ke RS! Nunggu di rumah aja. Bapak udah gk ada,mbak. Mbak tunggu di rumah aja sama Mbak Ririn.”
Deg!!
Aku kemudian memeluk Mbak Ririn dan menangis sejadi-jadinya.
Ya Allah, ayah udah gk ada!
Padahal malam ini aku berniat mengucapkan maaf di telinga ayah.
Padahal aku pikir aku masih bisa melihat ayah malam ini.
Mbak Ririn memaksaku untuk tetap ke RS untuk melihat jenazah ayah. Aku menelpon kembali ibuku. Ibuku memintaku membawa kain batik panjang untuk menutupi jenazah. Sepanjang perjalanan aku menangis.
Menyesal…
Mbak Ririn menenangkanku yang sedang mengendarai mobil dengan menangis. Dan ibu kembali menelponku dan menyuruhku untuk kembali ke rumah dan memberitahu kabar ini pada tetangga.
Dan itulah akhir dari pertemuanku dengan ayah…
Banyak sekali pikiran “seandainya…” yang terbayang dibenakku…
Seandainya aku lebih baik lagi dalam merawat ayah saat beliau masih hidup…
Seandainya aku saat itu meminta maaf pada ayah...
Seandainya aku gk KKN dan masih bisa mengurus ayah di detik-detik terakhir…
Seandainya…
Seandainya…
Ahhhh...
Apapun penyesalanku dan berapa banyak airmataku yang terjatuh tak akan mengembalikan ayah padaku. Yang aku lakukan sekarang adalah selalu mendoakan beliau agar beliau selamat menuju perjalanan yang menegangkan.
Ayah, tunggu aku disana. Saat ini adalah giliran ayah mendahului keluarga yang lain. Suatu waktu nanti kami akan menyusulmu. Dan semoga kami, putri-putri ayah, dapat menyelamatkanmu disana nanti.
Meskipun aku adalah satu-satunya dari ketiga putri ayah yang tak pernah engkau saksikan kelulusan dan pernikahanku kelak, tapi inilah jalan terbaik yang Tuhan berikan kepadaku dan kepada Ayah. Sekarang tinggal aku menjalani hidupku tanpa ayah yang selalu melindungi dan mendoakanku. Meskipun banyak kegagalan yang aku peroleh saat ini, tapi aku akan terus berusaha membanggakan ayah, meskipun beliau telah meninggalkanku…
Aku rindu kamu, ayah…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar