Pula dengan gadget untuk si kecil. Saya tidak melarang dia memainkan gadget di hari-harinya. Saya lulusan Psikologi dengan bidang perkembangan anak. Saya banyak pula membaca artikel tentang bahaya gadget untuk anak-anak. Saya tau penggunaan gadget berlebihan dapat merusak anak. tapi mengapa saya tetap memberikan ijin penggunaan gadget?
Sebenarnya simple saja, saya cuma tidak ingin dia kudet (kurang update). Saya membayangkan saat dia gaul dengan teman-temannya nanti. Ketika saya melarangnya untuk bermain gadget, padahal teman-temannya paham sebuah game dan permainan di hp. Tapi anak saya hanya melongo saja melihat mereka bermain dan ngerumpi masalah game terbaru. Akhirnya dia dijauhi teman-temannya dan tidak bisa bergaul dengan baik. Hal ini juga dibenarkan oleh suami saya. Dulu beliau juga kudet masa kecilnya, akhirnya tidak bisa bergaul dan menjadi pribadi tertutup.
Begitu pula dengan saya. Waktu kecil saya dilarang ibu menonton tv dan memiliki walkmen (kalo sekarang semacam ipod). Saya menghabiskan waktu dengan bermain di luar rumah bersama teman-teman. Anda tau apa yang terjadi dengan saya saat dewasa sekarang? Saya kecanduan tv! Waktu kuliah pun saya tidak bisa tidur jika tidak menonton tv atau mendengarkan musik. Saat beranjak kuliah, saya diperbolehkan nonton tv sepuasnya. Saya merasa merdeka, akhirnya kebablasan nonton. Saya merasa memiliki sesuatu yang dulu tidak saya dapatkan. Saya bisa mengabiskan 2 drama jepang dalam seminggu. Saya kuat berjam-jam di depan tv dan saya suka sekali nonton bioskop. Saya bisa nonton 3 film dalam sehari. Menurut saya ini gila! Untungnya kebiasaan ini menghilang ketika saya menikah, karena kesibukan mengurus anak.
Saya tidak ingin anak saya seperti itu. Saya tetap ingin memperkenalkan gadget dan teknologi kepada anak dengan catatan tetap MEMBATASINYA! Saya membiasakan dia main hp dengan batas waktu tertentu. Pada akhirnya dia akan terbiasa dengan batasan-batasan itu. Tentunya saya selalu mengawasi setiap saat konten-konten yang dia buka. Ketika nanti dia masuk ke lingkungan baru dan bertemu dengan teman-teman baru, dia bisa bergaul dengan baik dan tidak ketinggalan jaman. Dia bisa menjadi percaya diri dan tidak kudet.
Saya merasa kasihan kepada anak yang sejak kecil tidak diperkenalkan tv atau gadget. Mau sampai kapan? Toh ketika dia bergaul, teman-temannya berbicara tentang film anak-anak terbaru yang mereka tonton, tapi anak kita malah diem saja tidak bisa mengikuti mereka. Pada akhirnya anak merasa tidak paham dengan apa yang teman-teman katakan dan menutup diri. Anak juga bisa merasa sebal dan kecewa kepada kita karena tidak bisa seperti teman-temannya.
Sebenarnya kita mengacu kepada perbedaan setiap individu. Memang tidak semua anak seperti itu. Tapi kita tidak boleh membutakan anak dengan hal-hal yang sedang berkembang di jamannya. Jaman mereka beda loh dengan jaman kita dahulu. Anak jaman sekarang harus dituntut melek teknologi. Pendaftaran sekolah dan kerja saja sudah pada online, bagaimana jika anak kita tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi?
Suami saya sempat menjadi tim IT untuk mengurusi SBMPTN tahun 2017. Beliau bercerita, banyak kasus anak-anak SMA ini tidak bisa mendaftar online masuk perguruan tinggi untuk dirinya sendiri dan meminta bantuan operator warnet untuk mendaftarkannya. Apa yang terjadi? Si operator warnet ini kerja asal-asalan (ya iya lah, kan dia tidak daftar untuk dirinya sendiri) dan banyak melakukan kesalahan dalam pemilihan jurusan yang diinginkan si clientnya. Tiba-tiba di hari H pengumuman SBMPTN, si client ini kaget dan protes ke tim SBMPTN kok dia diterima di jurusan peternakan? Padahal dia sama sekali tidak mendaftar di peternakan, melainkan di kedokteran dan teknik. Usut punya usut, ternyata si operator warnetnya salah masukkin jurusan yang diinginkannya. Weleh...weleh... Kalau seperti ini siapa yang disalahkan?
Dari kejadian itu saya semakin mantab memperkenalkan teknologi sejak dini pada si kecil. Dengan catatan, bahwa saya tetap membatasi dan mengawasi sepenuhnya. Malahan saya dan suami ingin membelikan robot-robotan anjing yang bisa berjalan sendiri pada si kecil. Cita-cita kami pada anak, anak bisa membuat produk sendiri dan bisa berlomba di ajang Internasional menggunakan produk ciptaannya, hihihi. Kami juga ingin kelak si anak bisa mandiri, melek teknologi, bisa bergaul dengan baik di lingkungannya, dan tentunya tetap menjadi anak yang sholeh! ^__^.
Semoga Bermanfaat....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar