***

***
~smiLe~

Senin, 17 Juli 2017

Anak dan Gadget

Sebenarnya saya tipe orangtua yang protektif terhadap anak. Pikiran saya terlalu jauh jika memikirkan masalah anak. Takut anak begini, takut anak begitu. Ini yang harus saya buang jauh-jauh. Kasihan juga anak jika saya terlalu protektif. Saya hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anak saya.

Pula dengan gadget untuk si kecil. Saya tidak melarang dia memainkan gadget di hari-harinya. Saya lulusan Psikologi dengan bidang perkembangan anak. Saya banyak pula membaca artikel tentang bahaya gadget untuk anak-anak. Saya tau penggunaan gadget berlebihan dapat merusak anak. tapi mengapa saya tetap memberikan ijin penggunaan gadget?

Sebenarnya simple saja, saya cuma tidak ingin dia kudet (kurang update). Saya membayangkan saat dia gaul dengan teman-temannya nanti. Ketika saya melarangnya untuk bermain gadget, padahal teman-temannya paham sebuah game dan permainan di hp. Tapi anak saya hanya melongo saja melihat mereka bermain dan ngerumpi masalah game terbaru. Akhirnya dia dijauhi teman-temannya dan tidak bisa bergaul dengan baik. Hal ini juga dibenarkan oleh suami saya. Dulu beliau juga kudet masa kecilnya, akhirnya tidak bisa bergaul dan menjadi pribadi tertutup.

Begitu pula dengan saya. Waktu kecil saya dilarang ibu menonton tv dan memiliki walkmen (kalo sekarang semacam ipod). Saya menghabiskan waktu dengan bermain di luar rumah bersama teman-teman. Anda tau apa yang terjadi dengan saya saat dewasa sekarang? Saya kecanduan tv! Waktu kuliah pun saya tidak bisa tidur jika tidak menonton tv atau mendengarkan musik. Saat beranjak kuliah, saya diperbolehkan nonton tv sepuasnya. Saya merasa merdeka, akhirnya kebablasan nonton. Saya merasa memiliki sesuatu yang dulu tidak saya dapatkan. Saya bisa mengabiskan 2 drama jepang dalam seminggu. Saya kuat berjam-jam di depan tv dan saya suka sekali nonton bioskop. Saya bisa nonton 3 film dalam sehari. Menurut saya ini gila! Untungnya kebiasaan ini menghilang ketika saya menikah, karena kesibukan mengurus anak.

Saya tidak ingin anak saya seperti itu. Saya tetap ingin memperkenalkan gadget dan teknologi kepada anak dengan catatan tetap MEMBATASINYA! Saya membiasakan dia main hp dengan batas waktu tertentu. Pada akhirnya dia akan terbiasa dengan batasan-batasan itu. Tentunya saya selalu mengawasi setiap saat konten-konten yang dia buka. Ketika nanti dia masuk ke lingkungan baru dan bertemu dengan teman-teman baru, dia bisa bergaul dengan baik dan tidak ketinggalan jaman. Dia bisa menjadi percaya diri dan tidak kudet.

Saya merasa kasihan kepada anak yang sejak kecil tidak diperkenalkan tv atau gadget. Mau sampai kapan? Toh ketika dia bergaul, teman-temannya berbicara tentang film anak-anak terbaru yang mereka tonton, tapi anak kita malah diem saja tidak bisa mengikuti mereka. Pada akhirnya anak merasa tidak paham dengan apa yang teman-teman katakan dan menutup diri. Anak juga bisa merasa sebal dan kecewa kepada kita karena tidak bisa seperti teman-temannya.

Sebenarnya kita mengacu kepada perbedaan setiap individu. Memang tidak semua anak seperti itu. Tapi kita tidak boleh membutakan anak dengan hal-hal yang sedang berkembang di jamannya. Jaman mereka beda loh dengan jaman kita dahulu. Anak jaman sekarang harus dituntut melek teknologi. Pendaftaran sekolah dan kerja saja sudah pada online, bagaimana jika anak kita tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi?

Suami saya sempat menjadi tim IT untuk mengurusi SBMPTN tahun 2017. Beliau bercerita, banyak kasus anak-anak SMA ini tidak bisa mendaftar online masuk perguruan tinggi untuk dirinya sendiri dan meminta bantuan operator warnet untuk mendaftarkannya. Apa yang terjadi? Si operator warnet ini kerja asal-asalan (ya iya lah, kan dia tidak daftar untuk dirinya sendiri) dan banyak melakukan kesalahan dalam pemilihan jurusan yang diinginkan si clientnya. Tiba-tiba di hari H pengumuman SBMPTN, si client ini kaget dan protes ke tim SBMPTN kok dia diterima di jurusan peternakan? Padahal dia sama sekali tidak mendaftar di peternakan, melainkan di kedokteran dan teknik. Usut punya usut, ternyata si operator warnetnya salah masukkin jurusan yang diinginkannya. Weleh...weleh... Kalau seperti ini siapa yang disalahkan?

Dari kejadian itu saya semakin mantab memperkenalkan teknologi sejak dini pada si kecil. Dengan catatan, bahwa saya tetap membatasi dan mengawasi sepenuhnya. Malahan saya dan suami ingin membelikan robot-robotan anjing yang bisa berjalan sendiri pada si kecil. Cita-cita kami pada anak, anak bisa membuat produk sendiri dan bisa berlomba di ajang Internasional menggunakan produk ciptaannya, hihihi. Kami juga ingin kelak si anak bisa mandiri, melek teknologi, bisa bergaul dengan baik di lingkungannya, dan tentunya tetap menjadi anak yang sholeh! ^__^.

Semoga Bermanfaat....



  






Senin, 28 Januari 2013

Ciri Cewek Cool

Saya ingin membicarakan sesuatu pada postingan saya kali ini mengenai jadi cewek cool yang disukai cowok. Saya menulis ini bukan karena saya cewek cool atau sebangsanya, tapi saya ingin berbagi seperti apa sih cewek cool itu berdasarkan pengalaman saya dan teman-teman di lingkungan saya. Saya nulis ini karena saya pernah menjadi cewek gak cool dan semoga cewek lainnya bisa belajar dari pengalaman saya dan teman-teman. Oke kita mulai saja.


1. Cewek cool itu cewek yang tau sopan santun dimanapun dia berada. Apapun yang dia lakukan dan apapun yang dia tulis. Saya paling sebel dan langsung unfollow seseorang yang ngomong jorok ato kasar di sosmed. Jangan pernah lakukan ini jika kamu cewek terutama!

2. Cewek cool itu cewek yang enggak ngeluh di sosmed terus-terusan. Apalagi ngeluh soal sulitnya hidup yang dia hadapi. Itu bener-bener gk cool. Saya bingung sama orang-orang yang ngeluh di sosmed, tujuan mereka berbicara keluhannya itu untuk apa? Mungkin supaya banyak orang yang tau betapa hebatnya dia bisa menjalani kehidupan yang berat ini.

3. Cewek cool itu cewek yang gak pamer soal ibadahnya di sosmed. Ada loh yang suka pamer kalau dia solat 5 waktu. Waktu subuh nulis “abis solat subuh”, waktu dhuhur dia nulis “solat dhuhur dulu ahhh”, dia nulis sampai tahajud dan puasa pun dia tuliskan. Waktu abis menyantuni anak yatim pun dia bilang loh. Saya gk tau tujuannya apa nulis kegiatan ibadahnya di sosmed. Hal kaya gini bikin sebagian orang eneg. Jangan lakukan ini kalau lagi deketin cowok!

4. Cewek cool itu cewek yang gak jelek-jelekin orang lain di sosmed. Apalagi jika ada yang menyakiti. Misalnya dia abis diselingkuhin cowoknya, lalu dia nulis “Anj*ng!! cowok brangsek! Makan tuh kesetiaan” trus ngata-ngatain cewek yang jadi selingkuhan cowoknya “dasar cewek murahan!”. Eeehh, tau gak kalo cowok digituin makin ilfil, bisa aja dia malah bersyukur gak bersama cewek kaya gitu. Trus nih, cewek yg jadi selingkuhannya juga makin bahagia. Semakin kamu menderita, semakin dia bahagia. Jadi kalo ada kejadian kaya gini, tunjukkan kalo kamu bahagia tanpa dia. Tunjukan prestasimu lebih gemilang tanpa dia. Tunjukkan betapa menyesalnya dia ninggalin cewek sebaik dirimu, bukan malah menjelek-jelekkan dirimu sendiri. Big NO.
Ada lagi nih yang bikin saya geleng-geleng kepala doank. Ada orang yang ngeluh dan nulis yang buruk tentang ortunya. Hey, lihatlah lebih dalam! Di sosmed itu banyak relasi dan kerabat kita! Mereka bisa membaca apa yang kamu tulis. Kamu sama saja menjelek-jelekkan keluargamu. Kalau pengen marah sama ortu, tulis donk di diary! Jangan di sosmed. Apa jadinya kalo gebetanmu baca itu? Bisa-bisa dia mundur 1000 langkah darimu.

5. Jangan mendramatisir kehidupan! Misalnya nih, ada cowok yang kakinya sakit abis operasi, dia gak bisa sepak bola lagi karena kecelakaan (tapi masih bisa jalan normal setelah operasi). Si ceweknya mikirin keadaan si cowok sampai gak bisa makan, muntah, akhirnya masuk RS. Memang sih, keadaan psikologis orang berbeda, tetapi keadaan kaya gini gak ada yang perlu dipikirkan terlalu berlebihan hingga nyakitin diri sendiri. Si cowok bukannya iba dan merasa dicintai, tapi si cowok malah mikir kalo ceweknya ini ngerepotin banget. Cowok suka cewek yang kuat. Kecuali cowok-cowok remaja yang masih belum ngerti kerasnya hidup berumah tangga bakal suka sama cewek lemah yang bisa dilindungi. Remaja cowok suka cewek yg lemah krn merasa dia bisa menunjukkan sisi kekuatannya. Beda sama cowok dewasa yang udah tau gimana susahnya kehidupan berumah tangga. Lemah disini bukan berarti lemah fisik, tapi lemah secara mental. Dikit-dikit nangis, dikit-dikit ngeluh, dikit-dikit mikirin hal yang bikin diri sendiri sakit. Ayolah jadi cewek yang kuat! Cowok suka loh cewek kuat yang bisa mendampinginya melewati banyak cobaan di sisa hidup ini.

6. Jadilah cewek yang menyenangkan. Saya tau setiap orang berbeda. Tapi apa susahnya untuk senyum? Banyak orang yang suka loh dengan cewek yang tersenyum sama dia. Kalau mukamu bĂȘte terus dan kelihatan gak semangat, cowok males deketin. Kamu tersenyum itu menandakan bahwa kamu adalah orang yang berpikir optimis. Ada beberapa teman saya cewek yang kalau ke kampus bawaannya bĂȘte, mukanya gak semangat dan kalau ada topik lucu dia malah diem gak ikut ketawa. Saya sebagai cewek saja sedikit malas, apalagi cowok?

Sementara itu dulu yang bisa saya bagi. Selebihnya tolong kasih tau saya kalau ada yang kurang. Kamu gak harus jadi cewek yang sempurna, tetapi jadilah yang terbaik bagi dirimu sendiri. Kalau ada yang tersinggung, saya mohon maaf.

Kamis, 06 Desember 2012

Kisah Suatu Kebodohan

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan Pascasarjana. Saya sudah berumur 26 tahun saat menulis ini. Saya bisa disebut sebagai orang dewasa. Saya sudah memiliki KTP dan SIM. Pola pemikiran saya juga tentunya beda dengan anak SMA. Tetapi, ada saja hal bodoh yang saya lakukan yang tidak saya sengaja, entah itu sendiri atau bersama dengan teman. Hal bodoh inilah yang saya pikir gak jauh beda dengan kebodohan anak SD.

Siang itu saya menjemput teman saya bernama Fani. Kebetulan hari itu saya sedang sial karena motor matic saya sedang tidak bersahabat. Dia tidak bisa dinyalakan secara otomatis, harus manual. Kalaupun menyalakan secara manual tentu sangat merepotkan dan bikin capek. Harus mengayuh-ngayuh dulu. Sebelum ke kampus, kami mampir ke ATM dulu. Selesai kami mengambil uang, kami kembali naik motor. Apa yang terjadi? Ternyata motor saya tidak bisa di starter. Aduhhh, payah kan?! Saya coba pake otomatis, gak nyala. Lalu saya pakai manual. Saya kayuh-kayuh tuh starter manualnya.

“ceklekkk…ceklekk” -> suara starter manual

“aduh Fan, gk bisaaaaa. Gimana kalo didorong ke bengkel di belakang?” keluh saya.

“sini aku coba” ucap Fani.

Dia mencoba berulang-ulang tapi tidak bisa. Kami panik, harus melakukan apa. Sudah sekitar 15 menit kita mencoba menyalakan mesin. Tapi tetap tidak bisa. Fani tidak mau menyerah, dia mengutak-atik motor saya. tiba-tiba dia berteriak…

“Aaaaayyyyyy, bodoh banget kita. Kunci motornya belum kamu pasang ke ON. Masih OFF, gimana mau nyala coba?? Biar sampe kiamat juga gak bakal bisa dinyalain.”

Oalahhhhh, kami sama-sama ketawa. Bodohnya diriku. Gitu juga kami gak nyadar selama itu. Saat itu, kami merasa melakukan suatu kebodohan yang benar-benar bodoh. Pesan moral dari cerita ini adalah periksa baik-baik motor anda sebelum dipakai.

Ada lagi nih cerita. Saya bersama teman saya Rani pergi ke Pasar Beringharjo pada hari jumat dengan berbatik ria. Kami melihat-lihat pakaian. Ada beberapa pakaian batik yang saya suka. Saya bingung antara memilih baju batik pertama atau yang kedua ya yang saya pilih? Saya membeli deh yang menurut saya paling bagus. Saya membayar dan kami meninggalkan toko dengan hati gembira diiringi tawa saya dan Rani.

Tiba-tiba ada yang berteriak, “mbak, mbak kembaliiii!!”, saya dengan polosnya bilang “sapa sih teriak-teriak panas-panas gini?”. Ternyata ibu penjual di toko yang saya beli. Dia mengejar saya dan bilang “mbak, bajumu ketinggalan, tolong kembalikan baju saya”.

Ha??

Saya benar-benar merasa bloon, gak “ngeh” maksudnya.

“mbak, itu tolong baju saya jangan dipake” kata ibu toko.

Ya ampunnn!! Saya salah memakai baju! Saya memakai baju dagangannya yang tadi saya coba dan gak jadi saya beli! Setelah saya mencoba baju ternyata gak saya copot bajunya, malah saya terusin pake (padahal gak jd beli yang itu). Abis coraknya hampir mirip sama baju batik milik saya yang saya pakai dari awal. Aduh, malunya bukan main. Gitu teman saya juga gak sadar saya salah memakai baju, ibu toko juga gak sadar saya pake baju dagangannya waktu saya bayar. Saya tau ibunya pengen marah sih, tapi kayanya gak tega liat tampang bloon saya. hiks..
pesan moral dari cerita ini adalah jangan memakai batik kalau mau beli baju batik ke toko batik….T____T

Itu adalah dua cerita kebodohan saya. masih banyak lagi kebodohan yang saya lakukan yang tanpa saya sadari. Seringnya kebodohan yang saya lakukan adalah resleting lupa ditutup, ke kampus pake sandal jepit karena keburu-buru, pernah mau ke kampus tapi balik lagi ke kost karena salah pake sepatu berbeda antara kanan dan kiri. Ngasih duit 50.000 ke tukang parkir, saya pikir duit 1000 (untung pak parkirnya baik mau balikin). Pergi ke warung, gak sadar kalo duit di dompet tinggal 2000. Keasyikan nongkrong di warnet, gak sadar billingnya melebihi uang di dompet, dan kisah lainnya.

Sepertinya saya orang yang ceroboh dan kurang fokus. Mari perbaiki diri sebelum terjadi kebodohan-kebodohan berikutnya :)

Minggu, 26 Agustus 2012

Plis Jangan Nyinetron!

Saya sempet bete mendengar sebuah komen dari salah satu orang yang paling saya hormati di dunia ini, yaitu nenek saya. beliau berkata ketus kepada saya “kamu itu yang nyebabin ibumu sakit (stroke) kaya gini soalnya kamu gk nikah-nikah, ibumu jadi mikir kamu sebagai bebannya!”. Langsung saja hatiku menyebut “Astaghfirullah, beri hambamu kesabaran Ya Allah”. Ini dia yang bikin saya nangis semalaman, tega nian beliau menusuk hati saya dengan perkataan seperti itu…

Oke ini giliran saya bercerita mengapa saya belum menikah..

saya sudah memasuki usia 26 tahun. Saya sudah lebih dari 9 tahun pacaran dengan kekasih saya. Pacar sudah punya pekerjaan dan baru saja berhasil menyelesaikan S2-nya di Jepang, kami punya tabungan untuk menikah, dan saya juga sedang menyelesaikan S2 di Jogja. Pasti komentar orang melihat keadaan ini “menyedihkan, sudah mampu nikah tapi masih menunda-nunda”. Kami menunda pasti ada alasannya kan? Bayangkan saja 9 tahun pacaran tapi menunda pernikahan? adalah orang bodoh yang mampu tapi tidak segera menikah. kecuali jika memiliki alasan yang kuat mengapa tidak segera melaksanakannya.

Tahun 2003 pertama dia nembak saya adalah hal terindah, soalnya saya dulu sih yang suka dia trus saya deketin dia, eh ternyata PDKT saya sukses sampai dia nembak segala. Ternyata salah satu ortu saya tidak menyukai pacar saya. dia diusir dari rumah dan ortu berkata “tidak usah menghubungi Aay lagi!”, mirip sinetron deh. Kami putus, tapi balikan lagi karena masih sama-sama cinta dan menjalani backstreet. Dia dengan sabar menjalani pacaran gaya ini. Malah pernah nih dia main ke rumah, pas ibu saya datang, saya suruh dia nutupin mukanya pake bantal biar gk ketahuan. Si dianya sabar aja dan nurutin. Meski putus nyambung berkali-kali, kami tetep aja balikan lagi. Sampai temen dia ngasih motto “kemanapun kiki pergi pasti baliknya ke aay juga”, busyet dah.

Dengan sabarnya dia menunjukkan ke ortu saya kalau dia layak diperhitungkan sebagai calon menantu. Bayangin aja kami backstreet selama 7 tahun sampai akhirnya ortu saya bener-bener mencintai pacar saya juga. Yah, memang sih kalau cerita pacaran backstreet 7 tahun sih biasa, tapi selama itu kami LDR (Long Distance Relationship ato Pacaran Jarak Jauh). Bayangin aja udah LDR, backstreet pula.

Cobaan gak sampai situ aja, waktu pacar mau berangkat S2 di Jepang, kami berniat menikah. kami sudah merencanakan hari dan tanggalnya, kami sudah mulai cari-cari model cincin di internet, dan berdiskusi bagaimana nanti kehidupan kami di Jepang (rencana saya dibawa juga ke Jepang). Hari-hariku terasa bahagia menyongsong hari pernikahan. ternyata salah satu dari orangtua si pacar tidak setuju karena pacar masih terlalu muda (saat itu baru berusia 23 tahun).

Duarrr…!!

Akhirnya rencana pernikahan batal. Si pacar sudah berusaha untuk meyakinkan ortunya semaksimal mungkin, tetapi beliau tetap masih tidak menyetujui rencana kami. Yah, tau lah kalo saya pasti menangis sejadi-jadinya. Saya rasanya iri melihat teman-teman yang bisa menikah dengan mudah mendapatkan restu dari orangtua. Saya sempat stress saat itu. Saya sering mendengarkan ceramah-ceramah agama agar hati saya kembali normal. Ada beberapa teman malah menyuruh saya mencari pria lain yang bisa dinikahi..

Ohh stop!!

Saya menikah bukan karena hanya INGIN MENIKAH! saya menikah tentu dengan pria yang saya cintai, berapa lama pun menunggunya saya rela asal hatinya selalu untuk saya. saya berjanji untuk menunggunya lulus S2 dan menunggu bertambah usia. Pada saat itu nanti kami berdua akan meyakinkan ortunya untuk melangkah ke pernikahan. bisa saja sih kami menikah tanpa kehadiran ortu pihak lelaki, tapi kami berdua berkomitmen bahwa pernikahan haruslah direstui dari semua pihak. Karena menurut kami, pernikahan itu indah dan ikatan antar 2 keluarga, bukan hanya 2 orang saja. Kami tidak boleh egois dan Alhamdulillah alasan ortunya tidak boleh menikah karena usia, bukan karena saya pribadi.

Mungkin ini giliran menguji kesabaran untuk saya. pacar sudah diuji selama 7 tahun, saya harus bisa menunggunya 2 tahun untuk bisa meyakinkan ortunya bahwa kami sudah layak menikah. saya harus kuat dan tegar menghadapi semua cemooh dan ujian dari berbagai pihak yang memojokkan. Kebenaran akan selalu menang dan kesabaran pasti akan berbuah hasil yang baik. saya hanya meyakinkan pada diri sendiri bahwa suatu saat nanti pasti momen indah itu akan hadir dalam hidup saya.

Dan…

Pacar saya selalu mengajari saya untuk selalu tegar menghadapi sebuah masalah, tidak mendayu-dayu, dan tidak dihadapi dengan sebuah tangisan melulu tapi harus dihadapi dengan penyelesaian yang baik pula. So, pliss jangan nyinetron jika menghadapi sebuah masalah! Ini kehidupan nyata dan pasti endingnya lebih indah dari cerita drama manapun. Siapa tau kan??

Sabtu, 31 Desember 2011

Menyongsong Tahun 2012

Tahun 2012 akan datang beberapa jam lagi. Aku mengucap syukur karena masih diberikan kesempatan untuk bernafas di akhir tahun ini. Begitu pula dengan teman-temanku di Facebook yang membuat resolusi untuk 2012. Aku bertanya-tanya apakah resolusiku?

Aku lahir dari keluarga militer yang keras dan disiplin. Aku mengalami kejadian yang tak terbayangkan di masa kecil. Aku tak akan berbicara masa laluku. Aku tak pernah punya resolusi untuk tahun-tahun yang akan aku hadapi. Sejak kecil aku tak pernah terbiasa dengan membicarakan masa yang akan datang, bagi keluargaku, hadapilah apa yang ada sekarang!


Oke..

Sekarang aku berusaha membuat resolusi tahun 2012 yang nantinya akan aku baca kembali pada akhir tahun 2012…

1. Aku ingin meningkatkan kemampuan akademikku
2. Aku ingin belajar main gitar, hingga saat ini aku cuma bisa main piano saja.
3. Rajin berolahraga. Aku suka sekali badminton.
4. Menyelesaikan 1 buku yang seharusnya sudah aku selesaikan tahun 2011.
5. Tidak tergoda lagi untuk ngebut di jalan. Ibu selalu mengingatkanku untuk berkendara pelan-pelan.
6. Lebih memperluas pertemanan dengan siapa saja
7. Lebih menjadi pribadi yang baik dan ramah pada siapa saja

Apalagi ya?

Kok aku gk sreg dengan resolusi-resolusiku di atas tadi??

Ahh, aku selalu kebingungan menghadapi sesuatu yang belum aku lakukan. Aku hanya berpikir untuk menjalani kehidupan ini dengan sebaiknya dan melupakan masa lalu.

Ngomong-ngomong soal masa lalu, seorang sahabat yang memahami masa laluku berkata, “seharusnya dengan masa lalu yang berat, kamu sekarang menjadi pribadi yang antisosial, pemurung, dan pendendam. Tapi aku suka kau tidak begitu”. Alhamdulillah Tuhan memberikanku pelajaran masa kecil yang berat, aku bisa belajar semuanya dari pengalamanku. Aku ingin menjadi seseorang yang memiliki pribadi yang berkualitas. Aku memang suka seenaknya, malas disuruh-suruh orang dan lebih suka bekerja dengan hati, inilah aku yang sebenarnya yang suka dengan kebebasan (tetap bertanggungjawab).

Baiklah…

Kesimpulannya..

Resolusi terbesarku di tahun 2012..


1. Membahagiakan ibuku yang saat ini menjadi 1-1nya orang tuaku.
2. Meningkatkan kualitas kepribadianku, karena siapa sahabat dan jodoh kita adalah cerminan dari diri kita sendiri.
3. Bisa melanjutkan cita-citaku untuk mengajar


Ya itu saja, tidak usah banyak-banyak. Semoga aku bisa mencapainya dengan baik. :)